Pages

Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

January 2, 2014

End of Semester Routine

Thing that I hate the most being a lecturer/tutor of undergrads students is.....:

grading essay exams with unreadable works!!!


Arrrghhh!!! Want to kill myself....ups sorry....want to kill them!!

*cemungudh kakaaaakkk*

July 17, 2011

If a picture paints a thousand words….


Sepenggal lirik lagu yang saya yakin familiar di telinga banyak orang.

Picture
Saya punya banyak koleksi foto. Semua saya simpan dengan rapi dan terorganisir (sekalian pamer tentunya!). Dari folder foto itu, saya menambahkan gadget di sidebar windows agar saya dapat melihat foto-foto yang saya punya setiap saya menggunakan komputer ini.

Semenjak itu saya sering tiba-tiba kangen, tiba-tiba terharu, tiba-tiba sebal, dan rasa lainnya yang biasa datang tiba-tiba. Mostly ya kangen itu. Gambar-gambar itu mengingatkan saya akan momen-momen yang saya lewatkan selama ini dengan berbagai macam manusia yang dipersilahkanNya untuk mengisi lembaran-lembaran hari saya. Saya ingat tertawa bersama mereka, saya ingat menangis dengan mereka juga.

Gambar-gambar itu membuat saya merefleksikan kembali perjalanan yang sudah saya tempuh sampai saat ini. Sampai detik ini ketika saya sedang berada di suatu momen yang tidak saya duga akan saya dapatkan secepat ini.

Ingatan akan momen-momen dan rasa yang saya dapat melalui foto-foto tersebut membuat saya bersyukur…penuh…akan keberadaan setiap orang yang pernah melintas dan membuat saya belajar hal-hal baru…terus mengingatkan saya akan hal yang penting untuk saya.

Tuhan itu ada di sini…di hati…dan di mata semua orang yang saya temui.

July 8, 2011

Karena Itu Setitik, Rusak Susu yang Sebelanga


Pagi tadi saat sedang menyetir saya teringat suatu peristiwa. Waktu itu seseorang mengomentari saya bahwa kenegatifannya tidak menjadi masalah karena ada saya yang positif di suatu komunitas sama.

Saya pun lalu berpikir...jadi kalau ada yang positif harus ada yang negatif ya? Apa itu jadi membuat situasi yang kondusif karena jadi seimbang? Apa positif dan negatif dalam kaitannya dengan 'thinking' bisa saling meniadakan seperti kalau kita belajar matematika?

Apa yang akan saya utarakan disini semata-mata hanya pendapat saya saja tentunya. Teman-teman boleh setuju, boleh juga tidak. Buat saya, negative thinking itu layaknya "nila setitik, rusak susu sebelanga" kalau kata orang Indonesia. Atau buat anak-anak PSM mungkin lebih ke "karena setitik, rusak susu Sasnila yang seperti belanga".

Bayangkan...suatu hal yang dirawat baik-baik, mungkin dengan mengkonsumsi vitamin E dosis tinggi (ga tau juga nyambunya dimana), dioles Buste Cream tiap hari rutin, dengan effort waktu dan dana yang tidak sedikit...eh...karena setitik...titik yang kecil (dipersilahkan mengganti titik ini jadi apa saja)...jadi tidak bisa digunakan lagi (emangnya mau diapain coba).

June 1, 2011

Perfume

Sebenarnya mau ngomongin soal aroma...hehe... Tapi karena sy amaze dgn ide dari buku "Perfume" jadi biarkanlah saya memberi judulnya "Perfume" juga.

Satu hal yg membuat saya tercengang dari buku tersebut adalah ketika buku itu mengatakan bahwa yang namanya "aura" itu sebenarnya bau atau aroma dari orang tersebut, dan tiap orang pasti punya aroma individunya.

Untuk saya sendiri aroma memang membangkitkan memori. Aroma-aroma tertentu biasanya membuat saya teringat seseorang, sahabat lama, atau suatu kejadian di suatu waktu.

Pagi ini saya sedang berada di kamar mandi suatu hotel di Yogyakarta ketika membuka sebotol sabun cair Lux 'wake me up'. Aromanya telah menemani saya berpergian ke tempat-tempat yang jauh sejak tahun 2004 dulu...bahkan ketika line 'wake me up' itu belum muncul. Dan seperti setiap saya memakai aroma tersebut untuk mandi...saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan di tempat-tempat tersebut. Saya teringat kamar mandi di suatu hostel murah di Paris, tempat menginap tahun 2004. Juga asrama mahasiswa dengan tempat mandi pengap di  Praha dan St. Maximin saat perjalanan tahun 2009 lalu. Saya yakin saat saya menghirup aroma itu lagi di lain hari, kamar mandi hotel di Yogya ini akan jadi satu tambahan tak terpisahkan yang identik dengannya. Saat saya sedang menghabiskan waktu bersama teman-teman cantik dan seorang saudara baru yang entah kapan akan bertemu lagi.

Rasanya kangen...rindu...ingin kembali ke momen itu lagi.

Saya pun ingat aroma-aroma lain...terutama parfum... Dari mulai davidoff cool water, white musk-nya body shop, atau moroccan rose-nya. 3 aroma yg di otak saya identik dgn 3 mahluk luar biasa yg saya kasihi dengan sangat. Ah...saya kangen sekali mereka bertiga...

May 1, 2011

Karena Kadang Semua Nampak Tak Nyata

Iya...semua nampak tidak nyata. Karena semua muncul seperti yg diharapkan, seperti yg diimpikan. Seperti keajaiban. Aku percaya kalau untukNya tidak ada yg mustahil. Tp semuanya terlalu baik. Dan kenapa aku tidak bisa mengimani kalau semua yg terlalu baik ini mungkin.

Kenapa sekarang yg ada hanya rasa takut...

August 27, 2009

Menulis lagi...

Akhirnya saya menulis lagi di blog ini setelah lama tidak menyentuhnya karena perlu menata hal-hal lain terlebih dahulu.

Setelah mencoba mencari ingin saya tuang dalam bentuk apa nanti cerita perjalanan saya dengan teman-teman di Eropa kemarin, akhirnya saya menemukannya. Bukan sekedar memoar yang menceritakan detail-detail perjalanan dan kesulitan teknisnya... tapi lebih dari itu saya ingin mengangkat konflik di dalamnya. Tapi itu dia kesulitannya... ketika saya harus menceritakan konflik yang terjadi dan sebisa mungkin tidak menyinggung pihak-pihak yang berkaitan. Karena saya tahu... tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama. Mungkin ada yang biasa saja, tapi mungkin juga nanti ada yang pundung sekali.

Konflik yang terjadi perlu saya utarakan karena saya ingin buku ini benar-benar memberitahukan rintangan-rintangan kami, memperlihatkan kalau yang kami lakukan tidak mudah dan banyak yang dikorbankan di situ, tapi yang lebih penting... untuk maju memang membutuhkan keberanian... keberanian untuk meninggalkan zona nyaman dan menerima resiko apapun.

Itulah yang akan saya pegang. Cukup itu saja...

June 20, 2009

After midnight with hope and faith

Setelah sekian lama berada di depan komputer dan terus on line, akhirnya pukul 00.15 tadi saya memutuskan untuk mematikan notebook saya dan pergi tidur. Ritual saya sebelum tidur adalah membaca buku. Saya akan membaca buku sampai mengantuk, kemudian saya simpan buku itu, matikan lampu, dan saya tidur. Tapi ternyata saya tidak juga mengantuk, bahkan sampai bahan bacaan saya yang tebal itu selesai saya baca saya tidak juga mengantuk.

15 menit kemudian sudah banyak sekali ide-ide berkejaran dalam kepala saya. Memang benar apa yang rekan saya -yang juga kebetulan seorang motivator, Mas Dedy Dahlan- katakan, pikiran dan aktifitas tidak berjalan bersamaan. Ketika kamu melakukan sesuatu, kamu akan berhenti berpikir. Dan ketika kamu berpikir, kamu akan berhenti melakukan sesuatu. Ya kawan, berhenti untuk berpikir sama pentingnya dengan bergerak untuk mewujudkan apa yang kamu pikirkan.

Ide apa yang datang di kepala saya? Ide-ide seputar apa yang saya ingin lakukan dengan tulisan saya.

Sudah beberapa bulan terakhir saya mulai menulis tentang 'petualangan' panjang yang sedang kami -ITB Choir- jalani. Saya sudah tahu akan saya beri judul apa nanti, saya sudah mulai terpikir struktur bukunya akan seperti apa nanti, dan saya sudah mulai menulis pecahan-pecahan ceritanya. Tidak dipungkiri saya terinspirasi dari buku-buku perjalanan karya penulis lain. Tapi tentu saja pendekatan ceritanya akan berbeda. Karenanya juga saya tidak mau dicap ikut-ikutan, tapi saya akui karya lain menginspirasi saya untuk bercerita lebih lagi mengenai 'petualangan' kami.

Tidak semudah itu lho ternyata kawan-kawan merangkai tiap pecahan cerita yang dipadukan dengan pesan yang ingin saya sampaikan. Ketika sisi yang satu menginginkan keteraturan sebuah narasi dan alur berdasarkan waktu, sedangkan sisi yang lain ingin sekali memadukan beberapa kejadian menjadi suatu pesan. Sehingga akhirnya saya menemukan gambaran struktur yang ingin saya buat.

Lalu apa sih yang ingin saya ceritakan? Banyak! Karena apa yang saya ceritakan merupakan petualangan yang sebenarnya dimulai 6 tahun lalu ketika kami berusaha keras untuk mewujudkan mimpi ini untuk pertama kalinya. Tentu saja petualangan kami tahun ini akan menjadi yang terbesar dari yang pernah kami jalani. Mungkin baru kami paduan suara dari Indonesia yang sebegitu beraninya membuat program tur sepadat itu.

Saya tekankan lagi… paduan suara yang berani! Bukan paduan suara yang nekat. Walau tipis, bagi saya ada batasan jelas antara berani dan nekat. Nekat itu bagaikan kamu meloncat dari pinggir jurang tanpa melihat-lihat di bawah ada apa dan pasrah saja, sedangkan berani itu saat kamu meloncat dari pinggir jurang tapi kamu tahu tidak jauh di bawah ada pijakan yang walau susah, tapi akan dapat kamu capai. Kamu hanya tinggal menghitung jarak ke pijakan itu dan kira-kira seberapa besar tolakan yang kamu perlukan.

Ya! Jadwal kami padat. Kami tahu dan kami menyadarinya dan kami mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari.

Mungkin itu kawan salah satu yang ingin saya ceritakan. Bahwa yang kami lakukan disana bukanlah jalan-jalan. Dipikir-pikir memang lucu juga… ketika yang lain meminimalisir tidur agar dapat jalan-jalan, kami harus meminimalisir jalan-jalan agar dapat tidur cukup. Padahal kami sedang di Eropa! Hahaha!

Ya! Kami sadar kami disana membawa beban. Beban yang memang kami ciptakan sendiri (karena kami yang punya ide untuk acara ini toh :)). Apa yang ingin kami capai disana bukan hanya untuk kebanggaan kami, tapi ini adalah suatu kesempatan untuk kami mengukir bakti bagi Ibu Pertiwi. Bahkan mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan dalam hidup kami.

Ketika kami ingin sekali, dengan segala tehnik menyanyi yang kami pelajari, mengumandangkan Indonesia Raya dan mengibarkan sang Saka di tanah Eropa. Ketika tangan kanan bergerak ke pelipis dan menghaturkan hormat pada Dwiwarna. Ketika rasa terlalu penuh dan hanya hati yang dapat melantunkan syukur…

Mohon doa agar kami dapat memberikan yang terbaik bagi Pertiwi

Untuk Tuhan, Bangsa, dan almamater

June 15, 2009

Hari Senin yang padat dengan jadwal-jadwal

Kembali di hari senin. Setelah konser di Jakarta, memang entah mengapa keletihannya sulit dihapuskan. Hari ini memang terasa segar... jangan salah... aku menghabiskan 10 jam untuk tidur tadi malam :).

Dan ketika bangun aku langsung teringat pekerjaanku yang menumpuk. Yah, memang time management-ku masih perlu terus kukembangkan lagi. Pagi ini tadinya aku ingin berolahraga, tapi aktivitas itu harus kucoret dulu sementara karena aku sekarang harus mengecek rekapitulasi Friends of PSM-ITB dan membagi tugas mengkontak, lalu ke kelurahan mengurus surat kepindahan pemilu, ke Bumi Medika Ganesha mengurus donasi obat, lalu meeting untuk launching buku Mas Dedy Dahlan, dan sore nanti nampaknya aku masih harus latihan Saman lagi. Membereskan kamar? nanti malam saja lah ya ;p

Semangat terus di hari Senin!