Pages

Showing posts with label challenge. Show all posts
Showing posts with label challenge. Show all posts

October 11, 2020

Journal 11 - Menjadi Lebih Baik

Ada satu orang yang memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap cara pandang saya akan suatu kejadian atau seseorang. Beliau saya kenal saat saya mengambil studi S2. Beliau yang mengejawantahkan slogan-slogan semacam "a heart is better than all heads in the world" atau "orang kaya itu udah banyak, orang baik masih kurang" dengan sangat nyata. 

Memberikan bantuan dan pertolongan, baik materi maupun sekedar meminjamkan telinga, beliau lakukan. Saat melihat warung yang ramai, beliau akan makan di warung sepi sebelah warung ramai tersebut. "Beda sekali dong raut wajah yang jualannya" cerita beliau. Saat ada peminta-minta atau pengamen datang, beliau tidak pernah tidak memberi. "Mau dipake apa kek duitnya udah bukan urusan gua, udah urusan Tuhan itu sih" itu prinsipnya. Menolong sesama adalah kebahagiannya. Dari beliau saya belajar bagaimana menjadi orang (yang mudah-mudahan) baik sebenarnya.

Topik jurnal hari ini meminta saya untuk menuliskan apa yang saya ingin orang katakan tentang saya jika saya tidak ada. Tidak, saya tidak ingin orang-orang mengatakan kalau saya orang yang baik, karena saya masih jauh dari itu. Dengan segala kekurangan saya, saya ingin sekali ada percikan di hati teman-teman yang lain untuk menjadi lebih baik dalam menolong. Percikan yang saya pantikkan. Dan itulah yang saya ingin orang katakan tentang saya jika saya tidak ada...bahwa saya memantikkan percikan kecil di hati teman-teman saya untuk berbuat baik dan menolong yang lainnya.

October 10, 2020

Journal 10 - Yang Belum Pernah Aku Coba

Jurnal hari ini membuat saya berpikir dahulu cukup lama. Saya diminta menuliskan hal-hal apa saja yang saya bilang tidak mampu saya kerjakan tapi saya tidak pernah mencobanya.

Saya termenung, termenung, mengambil minum, lalu termenung lagi. Kemudian saya sampai pada kesimpulan, yang tidak pernah saya kerjakan kemungkinan besar bukanlah hal yang saya suka. Ditambah dengan prinsip bahwa semuanya bisa dikerjakan jika mau belajar, maka saya tidak pernah merasa ada yang tidak bisa saya lakukan jika saya mempelajarinya, bahkan jika hal itu belum pernah saya lakukan sama sekali.

Yah...walau durasi berpikirnya lumayan lama, nampaknya jurnal ini cukup diisi sependek ini dulu.

October 9, 2020

Journal 09 - List of Things that I am Good at (In My Opinion ya)

I'm good at communication though there are still many things that can be improved. I've been interested in public speaking since I was in college. I'd love to learn how to talk and make people understand. So I took several courses and did practices a lot. I would watch and observe presenters in tv or my MC friends. I would listen to the words they use, intonation, articulation, etc. Later on, I chose teaching undergraduates as my scholarship obligation and it eventually last for 7 years. I love being in front of the class and communicate with the students. Seeing their faces and bodies respond to my presentation. Then... I would be an MC or moderators in seminars, discussions, graduation ceremonies, and talk shows.

I'm good at organizing. I can and train myself to think and visualizing in detail about what will happen in an occasion so I will organize something to make it easier or less troublesome in the future. It doesn't have to be an event, it could be files in my laptop, or hard copy family documents.

I'm good at cleaning things...ahahaha. I have the patience it takes to clean something deep. The thing is...most of the time, I don't have the time it needs to do a proper deep cleaning.

Well...nevertheless, I still find it hard to clean all the bad memories from my brain 😝

October 8, 2020

Journal 08 - Fulfilled and Satisfied

Pertanyaan jurnal untuk hari ini sungguhlah membuat dahi berkerut, lalu berpikir keras, apa ya yang membuat saya merasa fulfilled dan satisfied? Bukankah banyak hal yang bisa membuat saya merasakan kedua hal tersebut. Contohnya: ada waktu senggang lalu dipakai ngobrol seru dengan teman (fulfilled) dan kalau obrolannya sangat berkesan sampai ada "pesan moral" yang bisa saya bawa...maka obrolan ini akan menjadi sesuatu ya satisfied

Waktu mengajar, ketika bisa memberikan materi dengan baik dengan durasi yang baik, disitu ada sesuatu yang fulfilled, dan ketika kelas/presentasi diakhiri tidak hanya dengan "terima kasih" tapi juga tepuk tangan atau gelak tawa, saya pun merasa satisfied. Saat mengerjakan event di hari pelaksanaan, saat semua berjalan lancar dan sesuai rencana, tentu saya merasa fulfilled. Ketika peserta sampai mau bersusah payah menyampaikan apresiasi...saya merasa satisfied. Bahkan ketika menulis seperti ini, saya akan merasa fulfilled jika target harian telah dicapai dan jika saya mendapatkan feedback yang bagus mengenai tulisan saya tersebut, saya akan mearasa satisfied.

Banyak sekali hal-hal yang menyenangkan buat saya dan ketika saya dapat melakukannya sesuai target saya akan merasa fulfilled. Perasaan satisfied ternyata ada saat saya menerima feedback dari orang lain karena itu berarti ada yang mengapresisasi apa yang saya lakukan.

October 7, 2020

Journal 07 - Keinginan dan Alasan Berhenti

Dari jaman S1 dulu sampai sekarang saya selalu punya keingin memiliki/mengelola Event Organizer/Management sendiri atau bersama-sama dengan teman saya. 

Tahun 2006 saya dan 6 orang teman lainnya memulai event organizer kami dan berniat menginsiasi acara mandiri. Terlalu polos... acara tersebut pun berakhir di tahap angan-angan. Tahun 2007 kami mendapat proyek pertama. Modal 0 rupiah berakhir dengan keuntungan kotor 5 juta rupiah. Dari event organizer kami merambah peluang menjadi travel agent. Tidak fokus dan kebutuhan tiap individu untuk mendapatkan penghasilan yang lebih stabil dengan menjadi karyawan di tempat lain membuat hal ini pun kami hentikan. Memang... jiwa wirausahanya belum terpupuk dengan baik.

Semenjak itu banyak proyek event yang saya kerjakan sendiri walau membawa nama bersama. Sampai akhirnya saya mohon izin untuk membawa bendera saya sendiri. Jadi semenjak 2013 setiap proyek yang saya kerjakan membawa bendera ALTO Event & Talent Management. Karena kesibukan mengajar sejak 2012, saya tidak pernah mencari proyek/klien. Biasanya saya mendapatkan klien berdasarkan rekomendasi atau testimoni dari klien saya sebelumnya. 

Dari seluruh pengalaman sampai sekarang, hal utama yang membuat saya tidak mengembangkan usaha ini adalah rasa tidak suka terhadap proses bisnisnya. Mulai dari klien yang rigid sedangkan di lapangan perlu ada keleluasaan yang cukup untuk menjadi fleksibel terutama terhadap vendor-vendor dan orang-orang yang membantu: misal budget untuk tips dan konsumsi. Mau tidak mau saya jadi harus menyelipkan item-item tersebut di item yang ada bukti pembayarannya... di mark-up bahasa kerennya dan saya bukan tipe orang yang suka memark-up. Jengah sekali melakukan hal itu. Sayangnya kwitansi tips seringkali tidak laku untuk jadi bukti ke klien. Ada juga yang mengerenyit kenapa harus ada tips dan konsumsi lagi. Padahal pekerja lapangan macam tukang tentu hanya mendapatkan uang yang sendikit dari bos-nya. Saya juga bukan tipe yang suka mengambil kick back dari vendor karena untuk saya fee dari klien itu sudah menjadi bayaran saya untuk mendapatkan vendor yang baik dengan harga yang rasional. Tapi karena di industri hal tersebut lumrah terjadi, beberapa kali klien menawar banting harga yang bikin saya balas mengerenyit dan tertawa dalam hati.

Karenanya saya lebih suka terlibat dalam kepanitiaan dimana saya terbebas dari masalah bukti-bukti keuangan. Saya cukup terlibat dalam konsepsi acara, mengontak berbagai vendor dan talent, dan mengorganisir acara di hari H.

Sampai sekarang saya masih punya keinginan menjadikan Alto sebagai perusahaan besar. Hanya saja saya belum berpikir bagaimana cara dan solusinya.

October 6, 2020

Journal 06 - Hari yang Sempurna

Sebelum pandemi hari sempurna saya biasanya melibatkan rencana-rencana yang berjalan dengan lancar, baik itu dalam mengajar, rapat, atau mengerjakan pekerjaan lainnya. Hari yang sempurna juga biasanya melibatkan perbincangan akrab dengan teman-teman tersayang dipenuhi dengan tawa-tawa dan mungkin sedikit pesan moral untuk dibawa pulang. Tak perlu banyak...toh dulu sudah menghabiskan waktu beberapa tahun belajar Pendidikan Moral Pancasila.

Saat pandemi ini hari sempurna saya biasanya melibatkan bangun di waktu yang cukup untuk membersihkan rumah sebelum anak saya bangun dan masih ada sisa waktu untuk membuka-buka laptop, posting ini itu di instagram, atau sekedar komentar di beberapa postingan teman. Hari yang sempurna ini akan berlanjut jika anak saya pecicilan secukupnya. Tidak terlalu heboh sehingga mamanya jadi olahraga ekstra. Hari yang sempurna akan berlanjut jika anak saya lagi bagus mood makannya. Lapar sesuai jadwalnya, tidur siang sesuai jadwalnya (dengan durasi selama mungkin tentu saja), sehingga lagi-lagi mamanya bisa punya waktu yang lumayan cukup untuk merapikan file dan dokumentasi lainnya di komputer sambil rerun serial-serial kesayangan. Hari yang sempurna juga akan berlanjut saat sore hari bisa putar-putar naik sepeda bersama anak dan papanya.

Sungguhlah hari yang sempurna untuk saya saat pandemi ini sesuai dengan pepatah: manusia hanya bisa berencana, bayi juga yang menentukan.

October 5, 2020

Journal 05 - Waktu Ekstra untuk Bersenang-senang

Topik hari ini sangatlah menggelitik... pertanyaannya: Jika saya memiliki 3 jam ekstra dalam sehari, apa yang akan saya lakukan dengan waktu tersebut. Jawabnya: bersih-bersih, merapikan file dan dokumen lainnya di komputer, dan menonton dokumenter. Hahahaha.

Sungguh, apa yang saya tulis kemarin merupakan hal-hal yang saya senangi dan membuat saya lupa waktu. Tentu saya akan sangat senang menghabiskan 3 jam ekstra saya untuk hal-hal tersebut.

Alasannya sudah saya beritahu di postingan kemarin ya. :)

October 4, 2020

Journal 04 - Rapih Rapih Aku Suka!

Handphone! Saya yakin banyak sekali yang berlama-lama menggunakan handphone tanpa tidak sadar. Ada yang memang karena tuntutan pekerjaan, ada yang mencari hiburan.  Bukannya tidak bisa kalau harus jauh dari handphone, buat saya terkadang asik sekali mendapatkan kabar dari orang-orang lewat berbagai media. Atau (yang sering saya lakukan sekarang) memuaskan keingin tahuan saya dengan nonton film-film dokumenter di Youtube. Sedangkan saya sendiri tidak terlalu sering posting.

Yang satu lagi sungguh lah memalukan untuk diceritakan... saya senang sekali berlama-lama "merapihkan" apapun. Terutama file-file di komputer saya. Bagi saya itu sama pentingnya dengan menyelesaikan pekerjaan yang lain, tapi sungguh "cemen" untuk dijadikan alasan tidak ikut berpergian atau beraktivitas lain saat waktu luang. Efek buruknya, terkadang pekerjaan strategis yang penting saya lakukan malah tenggelam dibalik keinginan saya membuat semuanya teratur. Untungnya makin kesini hal ini makin berkurang berkat alokasi waktu pengerjaan to-do-list yang saya ceritakan pada jurnal hari ke-2.

Saya bisa tidak tidur semalaman untuk merename file di komputer agar sesuai dengan yang saya inginkan. Atau memback up dan mengeceknya dengan detail apakah semuanya sudah tersimpan dengan baik. Hasilnya sering saya pamerkan dan mengundang reaksi antara "wow, luar biasa!" atau "gila! kurang kerjaan banget lo...(sambil menertawakan)". Akhir-akhir ini reaksi pertama yang sering muncul karena akhirnya saya bisa pamer foto-foto dan dokumentasi lainnya dari masa saya SD, SMP, atau SMA 20-an tahun yang lalu.

Nampaknya cukup sekian dulu ya... masih ada file lain yang ingin saya rapihkan. Ahahahaha.

October 3, 2020

Journal 03 - Dilema S3

Kalau ditanya saya iri kepada siapa, tanpa ragu-ragu saya akan menjawab akhir-akhir ini saya iri kepada mereka yang:
- mendapatkan tempat/beasiswa untuk S3,
- memulai S3-nya,
- sedang menjalani program S3-nya,
- dan yang baru saja menyelesaikan S3-nya.

Menjalani dan menyelesaikan program S3 di luar negeri merupakan target saya dari 2014. Awalnya sebenarnya lebih karena faktor ekonomi, lalu menjadi lebih kuat karena menikmati mengajar di sebuah perguruan tinggi.

Seringnya sih si S3 ini hanya jadi impian belaka karena terlalu tenggelam dengan kesibukan atau mengerjakan aktivitas lainnya yang lebih menyenangkan. Di tahun 2017 akhirnya saya mengurangi aktivitas saya tapi ternyata saya malah mendapat hadiah lainnya, yaitu hamil dan kemudian melahirkan di tahun 2018. Semenjak itu saya belum memiliki waktu yang proper untuk kembali berkutat mengenai masalah sekolah ini.

Sampai akhirnya kemarin ada perspektif lain yang kemudian disodorkan oleh salah seorang teman. Maybe this stuff is just not my cup of tea.... Apalagi pada dasarnya saya ga terlalu doyan riset. Paper ilmiah buat saya lebih untuk obat insomnia daripada bacaan berfaedah.
 
Dengan kerumitan dan kekompleksitasan S3, teman tersebut memberikan pandangan lain bahwa banyak yang bisa saya capai di area lain dalam jangka waktu yang harus saya luangkan untuk S3 ini. Selain itu, motivasi saya mengambil S3 ini bisa saya penuhi lewat jalan lainnya.

Dia adalah orang pertama yang mengutarakan ini dengan blak-blakan kepada saya. Perspektif baru yang pastinya jadi bahan untuk direnungkan sebulan ini sambil terus mengikuti journaling challenge for self-discovery ini. Dan sejujurnya sekarang saya jadi excited akan pilihan yang akan saya putuskan di akhir bulan ini.

October 2, 2020

Journal 02 - Menjadi Lebih Baik

3 tahun terakhir ini saya memulai suatu kebiasaan baru, memindahkan to-do-list saya ke dalam kalender sehingga setiap pekerjaan memiliki waktu pengerjaannya. Dari awal saya tahu saya tidak akan sesempurna itu mengerjakannya. Tapi efek positifnya, awareness saya akan waktu menjadi semakin baik. 

Saat memikirkan pertanyaan hari ini mengenai hal yang ingin dilakukan lebih baik lagi, otomatis saya berpikir mengenai kekonsistensian saya mengerjakan hal-hal yang telah saya agendakan. Lalu saya urung, saya sudah cukup stress. Walau saya tahu saya ingin lebih baik lagi dalam mengerjakan hal-hal yang telah saya agendakan, saya tahu bukan itu yang saya butuhkan saat ini.

Saat ini saya butuh untuk dapat lebih baik menerima keterbatasan kondisi saya yang membuat saya tidak seproduktif dahulu dalam hal pekerjaan. Saya butuh untuk berdamai dan tidak insecure dengan pencapaian teman-teman saya lainnya. Saya butuh tenang walau mengetahui kesempatan yang ada turut berlomba dengan umur. Toh semua ini nanti akan lewat dan tidak dapat diulang.

Saya ingin lebih baik dalam mencintai dan menerima saya dan kondisi saya sekarang ini apa adanya.

October 1, 2020

Journal 01 - Yang Menjadi Candu

Saat membaca pertanyaan mengenai apa yang akan saya lakukan jika uang tidak menjadi masalah, pikiran saya langsung melayang ke waktu-waktu yang saya habiskan untuk mengorganisir acara, menjadi koordinator lapangan. Dari sekian banyak hal yang saya sukai dan nikmati saat melakukannya, menjadi seorang yang memastikan acara berjalan dengan lancar adalah hal yang paling memuaskan.

Bermula dari terlalu aktif beraktivitas di suatu unit kegiatan mahasiswa dan memperlakukan kuliah layaknya ekskul saja; mengorganisir, mengkoordinasi, mengatur, menjadi obsesi saya. Dalam sepanjang perjalanan itu ada kalanya saya terlalu serius, ada kalanya masa bodoh. Ada kalanya ingin tahu dan terus bertanya, ada kalanya keras kepala dan sombong.

Selepas kuliah saya dan teman-teman menginisiasi proyek pertama idealis yang kemudian kandas tak berjejak. Proyek lainnya datang dan membuahkan profit pertama kami. Kebutuhan mendapatkan penghasilan yang baik akhirnya membuat kami bekerja di berbagai perusahaan dan menghibernasikan event organizer ini. Tapi tidak membuat saya kehilangan kesempatan untuk turut berpartisipasi menjadi panitia di berbagai acara.

Semua saya lakoni... reuni, peluncuran buku, seminar, pelatihan, konferensi, bahkan saat kemudian bekerja di perusahaan dan institusi lain, mengorganisir acara sering menjadi menu pekerjaan saya.

Ada candu yang membuat saya terus ingin terjaga... mengawasi alur manusia saat acara, mengamati raut wajah mereka, memastikan setiap hal muncul di waktu yang tepat. Meletupkan rasa puas saat kemunculannya mengubah raut wajah-wajah yang mengamati. Ada candu yang membuat saya ingin terus mencoba membuat aliran yang lebih baik, menghilangkan kerikil-kerikil yang mungkin menyumbat, melancarkan perjumpaan, meninggalkan kesan.

Tidak hanya saat mengorganisir acara, hal ini juga yang saya bawa saat mengajar. Memastikan sesi berjalan dengan lancar, memberi pengalaman, dan meninggalkan kesan.

Jika uang tidak jadi masalah, saya ingin pecicilan mengorganisir ini dan itu.